Jumat, 20 April 2012

KA'BAH:Titik Emas Bumi (bagian 1)


Seperti kita ketahui bersama bahwa Kota Mekkah memang merupakan sebuah tempat yang telah digambarkan oleh Allah S.W.T. melalui firman-firman-Nya sebagai sebuah tempat yang dijadikan arah bersujudnya umat Islam. Mekkah pun merupakan sebuah tempat yang memiliki kesan mendalam serta menakjubkan bagi milyaran umat muslim. Tentu saja jika ada diantara kita yang menyebut kota Mekkah, maka alam bawah sadar kita akan merespon kata itu dengan memberikan sebuah jawaban betapa Mekkah tiada lain adalah sebuah kota suci bagi kita yang mengaku beragama Islam. Setidaknya? Inilah sesungguhnya hakikat yang kelak akan bisa kita temukan jika kita membahas mengenai kota Mekkah Al Mukaromah.

Namun, keberadaan bukti-bukti ilmiah dari misteri suci yang luar biasa yang tetap tersembunyi di kota Makkah selama ribuan tahun kemudian mengajak kita semua kembali merenung: "Ada apa? Kenapa Islam sangatlah mengagungkan kota Mekkah al Mukaromah dan rela mengeluarkan biaya yang jumlahnya sangat tidak sedikit untuk bisa mengunjungi kota itu?"

1. Ka’bah sebagai Kiblat

Istilah Ka’bah adalah bahasa al quran dari kata “ka’bu” yang berarti “mata kaki”atau tempat kaki berputar bergerak untuk melangkah. Qs. 5 : 6 dalam Al-quran kemudian menjelaskan istilah itu dg “Ka’bain” yg berarti ‘dua mata kaki’ dan dalam Qs. 5 : 95-96 terdapat istilah ‘Ka’bah’ yg artinya "nyata" “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau juga "kutub putaran utara bumi".

Neil Amstrong, sang penjelajah antariksa yang legendaris itu pun telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian ilmiah. Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya?.”

Menyikapi soal ini pun para astronot yang diawali sejak era Neil Amstrong telah menemukan betapa planet Bumi itu sesungguhnya mengeluarkan semacam radiasi. Pernyataan secara resmi mereka mengumumkannya di Internet,tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib. Dan bicara perihal raibnya website itu? Banyak kalangan yang kemudian menduga bahwa sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.

Namun setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama,lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itulah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Jadi, sekarang setelah ada penelitian tentang fenomena ajaib itu maka pertanyaan mengapa Ka’bah menjadi kiblat suluruh ummat muslim dunia pun perlahan terjawab sudah. Ya, itu semua tiada lain karena Ka’bah memang di ciptakan Allah sebagai sebuah titik pusat atau sumbu dunia. Keberadaan Ka'bah sebagai rumah Allah yang menjadi pusat spiritual hubungan antara ruh manusia dengan sang penciptanya sendiri adalah alasan lain mengapa Ka'bah kemudian dijadikan oleh Allah sebagai kiblat umat Islam sedunia. Kesemua itu tiada lain adalah menyangkut masalah keruhanian kita. Jadi sholat yang kita lakukan itu memang pada dasarnya adalah untuk makanan rohani kita.

Mengapa Pula Ka'bah terletak di Kota Mekkah ?

Berdasarkan sejarah dibangunnya Ka’bah, Sepintas lalu bahwa ayat di atas mengatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama membangun Ka’bah dipermukaan bumi ini, seperti dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Padahal bila dicermati, sebelum Nabi Ibrahim menginjakkan kakinya ke tanah Mekkah sudah ada bangunan Ka’bah yang telah dibangun oleh malaikat dan generasi sebelum Nabi Ibrahim as. Hal itu dapat dipahami dari kata “Yarfa’u” meninggikan berarti meninggikan bangunan yang sudah ada.

Pertama : Generasi Malaikat. Dua ribu tahun sebelum Nabi Adam diciptakan, Malaikat sudah membangun Ka’bah di bumi ini atas perintah Allah SWT. Di dalam Alquran dijelaskan bahwa ketika Allah SWT hendak menciptakan Nabi Adam as, Allah SWT berfirman kepada malaikat :

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi", lalu para malaikat bertanya "Mengapa Engkau hen-
dak menjadikan khalifah di muka bumi ini, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.Ketika itu Allah menjawab : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
(QS. al-Baqarah: 30).

Riwayat menceritakan bahwa Ka’bah pada masa itu terletak di atas buih yang keras, yaitu benda pertama yang muncul di bumi ini. Maha Benarlah Allah Swt. yang telah berfirman: "Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun di muka bumi ini adalah di Makkah." (QS. Ali Imran: 96).

Adapun menurut penglihatan dari kamera satelite NASA, Para ilmuan NASA pun melihat ada satu cahaya yang bersinar dari bumi dan sinarnya begitu kemilau ketika dilihat dari satelite tersebut. Lantas ketika kemudian pemandangan cahaya itu diperbesar? apa yang terjadi? Maka setelah diperbesar, ternyata tergambar jelaslah bahwa cahaya kemilau yang selama ini dilihat oleh ilmuan NASA itu tiada lain adalah berasal dari Masjidil Haram atau Ka’bah.


Ketika Nabi Ibrahim a.s bersama anaknya, Ismail membina Ka'bah kembali, Ka'bah tersebut belumlah seperti ka'bah yang sekarang dimana pada mulanya, Ka'bah itu memang tidak ada bumbung dan pintu masuknya. Nabi Ibrahim a.s bersama Nabi Ismail pun kemudian berupaya keras untuk menyelesaikan pembinaannya dengan mengangkut batu dari berbagai gunung. Dalam sebuah kisah disebutkan manakala pembinaan Kaabah itu selesai, ternyata Nabi Ibrahim masih merasakan adanya kekurangan. Yeah, ketiadaan sebuah batu lagi untuk diletakkan di Ka'bah kemudian menjadikan Nabi Ibrahim berkata kpd Nabi Ismail,“Pergilah engkau mencari sebuah batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia.”

Kemudian Nabi Ismail a.s pun pergi dari satu bukit ke satu bukit untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika Nabi Ismail a.s sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril a.s memberikan sebuah batu yang cantik. Sontak saja, Nabi Ismail pun membawa dengan segera batu itu untuk diserahkan kepada Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s. merasa gembira melihat batu yang sungguh cantik itu. Saking gembiranya Nabi Ibrahim, beliau pun mencium batu beberapa kali.

Kemudian Nabi Ibrahim a.s bertanya, “Dari mana kamu dapat batu ini?”
Nabi Ismail berkata, “Batu ini kuterima daripada yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril).”

Nabi Ibrahim pun mencium lagi batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail As. Sehingga skrg Hajar Aswat itu dicium oleh orang2 yang pergi ke Baitullah. Sementara itu menurut penelitian diungkapkan bahwasanya batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air.

Konon Di sebuah meseum di negara Inggris sana, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka’bah) dan pihak mesium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda tentang Hajar Aswad:
“Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam.”

Sehingga dapat dikatakan bahwa Batu Hajar Aswat itu bukan berasal dari dunia kita, melainkan dari dimensi lain atau akhirat yang diturunkan ke dunia...

Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit dan Bumi


Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia. Untuk tujuan ini, ia lantas menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.

Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi.Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978).

Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.

Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sain di Barat.

Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:
‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7)

Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di dalam kultur Islam. Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.

Makkah atau Greenwich

Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu.

Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.

Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit


Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-Rahman:33)

Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata ‘qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu pada langit dan bumi yang mempunyai banyak diameter.

Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada di tengah-tengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah-tengah lapisan-lapisan langit. Selain itu ada hadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka‘bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuh lapisan pembentuk bumi).

Shadaqallahul Adziiim

Maha benar Allah dengan segala firmannya…

sumber:

http://www.punyakamu.com/thread-9595-1-1.html
http://www.facebook.com/note.php?note_id=280430465345814
http://www.malimsonline.com/fakta-tentang-keajaiban-kabah/
http://www.jurnalhaji.com/2011/10/26/keistimewaan-kabah/


This article was shared by : :


Fuad Suyatman, Ch. M.

Hypnoblogger, Hypnographolog and Hypnolove Master in


1. King Of Mind
(http://seratdakwah.blogspot.com/2012/04/king-of-mind.html)

2. Ztrongmind
(http://www.ztrongmind.net)
and

3. Relax's Mind

(http://www.facebook.com/groups/288023281266070/http://www.facebook.com/groups/288023281266070/)

Surakarta

2 komentar:

  1. ini gue tulis ya...berdasar sumber2 ntu. trusan? gue modifikasi sedikit2 d. Ga tau juga ntu termasuk asli atau jenis saduran,hehehehhehe

    tapi si tujuan gue? biar lewat blog ini..
    gue bisa berbagi manfaat aje lah ama
    semuanye

    BalasHapus