Selasa, 20 Maret 2012

Arti Anak Bagi Orang Tua


Disebarkan lagi oleh :
H. Fuad Suyatman (Haji Fuad Hasan P. Salman bin Suyatman)...hehehehhee. Tua bener kesannye?
The Craziest and The Most Productive Blogger sekaligus juga
Praktisi Hypnosis solo binaan Ztrongmind -Sebuah Organisasi Hypnosis yang tengah Booming di Blora dan Kota asal Mobil Esemka,Solo


Apa sih arti anak buat orangtua? (kutemukan ini dalam kumpulan tausiyah pamanku tercintah, Bp. Drs. H. Teguh, M.Pd (Wakil Ketua II Pengurus Daerah Muhammadiyah Surakarta)

1. Sebagai Penguji Iman


أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ .

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. 29:2)

Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(QS. 29:3)

وَاعْلَمُوا أَنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرُُ عَظِيمُُ .

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. 8:28)

2. Sebagai Media Beramal


اِذَا اَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى اَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ

Apabila seorang laki-laki memberi nafkah kepada ahlinya (termasuk anaknya) karena mengharap pahala dengannya, maka ia adalah termasuk shadaqah (Mutafaqun 'alaih)

3. Sebagai Bekal Di Akherat


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ (ابن ماجه)

Sesungguhnya seorang laki-laki dinaikkan tingkatannya di dalam syurga sampai ia berkata : karena apa saya memperoleh ini? Lalu ia mendapat jawaban: Karena permintaan ampun bagimu dari anakmu.
(HR. Ibnu Majjah)

4. Sebagai Unsur Kebahagiaan

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata:"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74)

5. Sebagai Tempat Bergantung Di hari Tua

وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلاَ يَعْقِلُونَ

Dan baransiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan mereka kepada kejadian(nya).Maka apakah mereka tidak memikirkan? (QS. 36:68)

مِنْ حَقِّ اْلوَلَدِ عَلَى اْلوَا لِدِهِ ثَلاَثَةُ اَشْيَاءُ : اَنْ يَحْسِنَ اْسمُهُ اِذَا وَلَدَ, وَيُعَلِّمُهُ اْلكِتَابَ اِذَا عَقَلَ, وَيُزَوِّجَهُ اِذَا اَدْرَكَ .

“Hak anak dari orang tua ada tiga :
1. memilihkan nama yang baik ketika lahir,
2. mengajarinya kitab Allah (agama) apabila telah berakal,
3. menikahkan jika telah dewasa (yakni jangan sampai tergoda dan berlacur).


Kisah:
Ada seorang melapor kepada Amirul mukminin (Umar bin Khatab), tentang putranya yang durhaka. Maka anak itu bertanya apakah anak itu tidak ada hak dari orang tuanya.

Dijawab ada:

1. memilihkan ibu yang baik,
2. memilihkan nama yang baik,
3. mengajari kitab Allah.

Anak tadi bersumpah demi Allah dia tidak memilihkan ia ibu yang baik, ia membeli budak dengan 400 dirham dan itu ibuku, dia menamai aku kelelawar jantan, dan ia tidak mengajari aku kitab.

اَرْبَعَةٌ مِنْ سَعَادَةِ اْلمَرْءِ : اَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتَهُ صَالِحَةً , وَاَوْلاَدَ هُ اَبْرَارًا , وَخُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ , وَاَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ .

“Empat macam yang mendatangkan kebahagiaan:
1. isteri yang shalihah,
2. anak yang baik/taat,
3. kawan-kawannya orang shaleh,
4. penghasilan rizqinya di negerinya.


Orang Yang Hidup Sia-sia

تَدْرُونَ مَا الرَّقُوبُ قَالُوا الَّذِي لَا وَلَدَ لَهُ فَقَالَ الرَّقُوبُ كُلُّ الرَّقُوبِ الرَّقُوبُ كُلُّ الرَّقُوبِ الرَّقُوبُ كُلُّ الرَّقُوبِ الَّذِي لَهُ وَلَدٌ فَمَاتَ وَلَمْ يُقَدِّمْ مِنْهُمْ شَيْئًا قَالَ تَدْرُونَ مَا الصُّعْلُوكُ قَالُوا الَّذِي لَيْسَ لَهُ مَالٌ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّعْلُوكُ كُلُّ الصُّعْلُوكِ الصُّعْلُوكُ كُلُّ الصُّعْلُوكِ الَّذِي لَهُ مَالٌ فَمَاتَ وَلَمْ يُقَدِّمْ مِنْهُ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا الصُّرَعَةُ قَالُوا الصَّرِيعُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّرَعَةُ كُلُّ الصُّرَعَةِ الصُّرَعَةُ كُلُّ الصُّرَعَةِ الرَّجُلُ يَغْضَبُ فَيَشْتَدُّ غَضَبُهُ وَيَحْمَرُّ وَجْهُهُ وَيَقْشَعِرُّ شَعَرُهُ فَيَصْرَعُهُ غَضَبُهُ (احمد)

"Tahukah kamu siapa orang yang disebut mandul itu? Para sahabat menjawab: mereka orang yang tidak beranak. Rasulullah SAW bersabda: 'Orang mandul itu ialah mereka yang yang mempunyai anak tetapi mati tidak memperoleh pahala suatu apapun dari anaknya. Tahukah siapa orang yang papa itu? Para sahabat nebjawab: itulah orang yang tidak berharta. Rasulullah SAW bersabda: Orang papa itu adalah orang yang mempunyai harta tetapi tidak memperoleh mamfaat dari hartanya sedikitpun. Tahukah siapa orang yang kuat (pegulat) itu? Para sahabat menjawa: mereka adalah orang yang tidak terkalahkan. Rasulullah SAW bersabda: Bukan, Tetapi mereka marah sehingga menjadi merah wajahnya, gemetar rambutnya, lalu ia dapat mengalahkan emosi dan nafsu amarahnya." (HR.Ahmad)


Penutup
Sebagai penutup mari kita camkan hadits berikut:

إِذَا أَرَادَاللهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا فَقَّهَهُمْ فِى الدِّيْنِ, وَوَقَّرَ صَغِيْرَهُمْ كَبِيْرُهُمْ, وَرَزَقَهُمُ الرِّفْقَ فِى مَعِيْشَتِهِمْ, وَالْقَصْدَ فِى نَفَقَاتِهِمْ, وَبَصَّرَ عُيُوْبَهُمْ فَيَتُوْبُ مِنْهَا, وَاِذَا أَرَادَبِهِمْ غَيْرَ ذَالِكَ تَرَكَهُمْ هَمْلاً.

"Apabila Allah menghendaki (menganugerahkan) suatu rumah tangga yang baik (bahagia), diberikanNya kecenderungan mempelajari ilmu agama (untuk diamalkannya), yang muda diantara mereka menghormati yang tua, tidak serakah dalam mencari nafkah, hemat dan hidup sederhana(dalam membelanjakan hartanya), melihat (menyadari) cacat-cacat mereka masing-masing kemudian bertaubat. Dan jika Allah menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkanNya mereka dalam kesesatan."
(HR. Ad-Dailami)

0 komentar:

Posting Komentar