Selasa, 06 Maret 2012

JOKOWI SANG WALIKOTA IDOLA


Ditulis dan dimodifikasi kembali oleh
Fuad Suyatman, Ch. M.

Hypnoblogger, Hypnographolog and Hypnolove Master in

1. King Of Mind
(http://seratdakwah.blogspot.com/2012/04/king-of-mind.html)


2. Ztrongmind

(http://www.ztrongmind.net)

and
3. Relax's Mind

(http://www.facebook.com/groups/288023281266070/)
Surakarta



Ternyata bisa lho bikin KTP 1 jam dan bayar cuma 5 ribu! Betul ini ada di Indonesia..di Kota Solo tepatnya! Wah kalo pemimpin kita kayak gini, pasti dech rakyat makmur."

Begitu kira-kira komentar tentang salah satu ke-cemerlang-an pemikiran khas anak bangsa ini dari http://duniapangankita.wordpress.com, salah seorang saudara sesama blogger (walau beliau jauh lebih senior dalam perbloggeran tentunya,hehehehe)


Jokowi, sebuah nama yang langsung terucap ketika orang-orang menanyakan perihal Kota Solo. Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jokowi ini emang udah jadi idolanya Solo. Walikota yang udah mimpin kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015 bersama Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo ini emang dikenal sebagai walikota yang sangat peduli pada kesejahteraan rakyat.

Bahkan di aneka referensi yang membahas seputar kiprah seorang Joko Widodo (alias Jokowi) gue kerapkali menemukan aneka fakta baru betapa ternyata di negeri ini toh masih ada juga pemimpin yang sangat pro rakyat. Contohnye aje dalam situs http://www.deeahzone.com. Disana diceritain bahwasanya elum lama setelah Pak Jokowi njabat sebagai walikota Solo, beliau sempat didatangi kepala Satpol PP yang meminta dana untuk membeli 600 pentungan dan 600 tameng untuk menertibkan pedagang kali lima yang selama ini memang jadi salah satu sumber kesemrawutan di kota Solo. Tapi apa reaksi Jokowi atas permintaan itu?

Jokowi yang dengerin permintaan mas Kepala Satpol PP pun tersentak dan seketika aja nyeletuk:
"Saya tanya, mau menggebuki atau mengayomi rakyat?"

Sebuah celetukan yang buat gue adalah cerminan khas negarawan yang selama ini udah hampir ilang dari bumi pertiwi. Sebuah celetukan singkat yang setelahnya berbuntut pada keluarnya perintah dari Jokowi agar mengumpulkan dan memasukkan seluruh tameng dan pentungan ke dalam gudang untuk dikunci. Dan bukan itu aja, Sob!! Untuk mempertegas citra pemerintahan tanpa kekerasan, Jokowi pun mengganti kepala satpol PP yang identik dengan pria besar berwajah garang dengan seorang wanita (sebuah keputusan yang ga tau kebetulan atokah nggak? Langsung diikuti sama kepolisian negeri ini yang kemudian melejitkan nama Briptu Eny ato juga Briptu Eka).

Karena keputusan nyeleneh dan super pro rakyat itulah kemudian aneka penghargaan dari media massa maupun masyarakat rame-rame mendatanginya. Contohnya saja ketika Republika menobatkan Jokowi sebagai salah satu tokoh perubahan 2010. Atau yang lebih awal lagi? Ketika Tempo menobatkannya sebagai Tokoh Pilihan pada tahun 2008.

Tapi sebagaimana negarawan sejati, pada awal pencalonan peraih gelar Insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985 ini sebagai walikota Solo, banyak sekali orang yang sangat meragukan kemampuan pria yang sebelum menjabat sebagai walikota ini berkiprah sebagai seorang pengusaha mebel rumah dan taman ini. Namun seiring banyaknya gebrakan progresif dilakukan olehnya, lambat laun dirinya yang sempat diragukan kapasitasnya seketika menjadi sosok yang sangat didukung kinerja dan kapasitas kepemimpinannya.


Jokowi Sang Walikota Pembelajar


Dalam hal pengembangan dan memajukan kota Solo yang dipimpinnya, Jokowi memang banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi kala dulu masih sering melakukan perjalanan bisnis. Hasilnya?

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding Kota Solo pun kian menggema kala Jokowi menyetujui moto "Solo: The Spirit of Java" sebagai motto penarik wisatawan ke kota yang dipimpinnya. Tapi gak hanya itu aja, Sob!

Jokowi pun segera mengambil aneka langkah yang progresif untuk menunjang upaya peningkatan Branding kota Solo dimana Jokowi dengan kebijakan yang diambilnya mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak. Selanjutnya? Jokowi pun melakukan aneka upaya lain yang tak kalah jenius dimana ia berhasil merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka dan memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik warga Solo.

Gak cuman berhenti sampe situ aja, Jokowi bersama jajarannya pun sampe sekarang masih melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Salah satu kesuksesan yang gue juga rasain itu ialah ketika Jokowi berhasil merubah image Taman Balekambang, dari yang sebelumnya cuma sekedar taman yang terlantar menjadi taman santai paling asyik yang jadi tempat nongkrongnya warga solo kala weekend tiba.

Peningkatan Branding kota Solo sendiri (lagi-lagi) ga berhenti sampe situ aja. Dalam meningkatkan image positif Solo? Jokowi kerapkali menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya dimana sebagai tindak lanjut atas upayanya itu, ia pun mengajukan Kota Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Sebuah langkahnya yang seketika saja menjadikan Kota Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008.

Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang tadinya sempat terancam digusur lantaran akan dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. Namun dengan langkah yang diambilnya, upaya penggusuran itu pun berhasil digagalkan. Sebagai imbasnya? Festival Musik Dunia atau FMD pun berhasil terselenggara disana pada tahun 2008 tepatnya di komplek Istana Mangkunegaran.


Suka yang Kecil-Kecil


Small is beautiful. Begitulah yang mungkin ada di benak Walikota yang satu ini. Bagi Jokowi, sesuatu yang kecil bisa memberikan kontribusi besar karena yang kecil-kecil itu lama-lama bisa menjadi besar. Ia sendiri menandaskan betapa ia sangat Pro terhadap yang kecil, termasuk investasi kecil.

"Saya ini orangnya pro investasi kecil. Karena lama-lama yang kecil-kecil itu bisa jadi besar," cetus Joko yang meraih penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award (BHAA) 2010.Oleh karena itu bagi Jokowi? Menggarap pedagang-pedagang kecil di kota Solo jauh lebih menarik daripada sibuk menarik investor besar. Sebab pedagang kaki lima di Solo itu jumlahnya banyak, sehingga bila ditangani serius mampu menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) yang cukup signifikan.

Walikota pembelajar dan pro rakyat kecil. Begitulah kira-kira penggambaran akan image seorang Jokowi. Baginya? Daripada pasar swalayan yang besar dan terkesan modern, ia jauh lebih menyukai pasar tradisional.

"Kalau yang mart-mart itu tidak menolong yang kecil. Investor itu tidak selalu asing. Karena kalau kecil dikelola dengan baik bisa mendatangkan yang besar. Ratusan ribu rupiah tidak apa-apa, tidak harus miliar,"

Itulah gaya dan pemikiran khas Joko Widodo alias Jokowi. Seorang Walikota yang salah satu bentuk kontroversinya adalah kala ia tidak mengambil sepeserpun gajinya sebagai walikota


Walikota Solo Tak Pernah Ambil Gaji

Kita semua rasanya udah paham banget kalo urusan gaji pejabat tinggi belakangan ini adalah satu topik yang lagi ramai dibicarain. Salah satu pemicunya ialah pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal gajinya yang sudah tujuh tahun tidak juga naik. Tapi untuk masalah ini? Ternyata Jokowi justru kebalikan 180 derajat dimana walikota yang tengah menjalani masa jabatan dua periode ini ternyata belum pernah sekali pun mengambil gajinya. Bahkan, mobil dinas walikota yang saat ini dipakainya juga merupakan 'warisan' pejabat walikota sebelumnya, Slamet Suryanto.

Untuk yang satu ini sang Walikota Solo ini menuturkan,betapa ia belum pernah melihat ataupun menerima amplop gaji bayarannya sebagai walikota. "Kalau teken saya memang teken tapi tidak pernah lihat amplopnya. Ambil gimana, wong lihat amplopnya saja tidak pernah," kata dia.

Begitu juga soal mobil dinas? Jokowi adalah sosok Walikota yang ternyata juga enggan menggantinya dengan yang baru. Mobil dinas Toyota Camry keluaran tahun 2002 yang selama ini dipakainya notabenenya merupakan peninggalan mobil dinas walikota Solo sebelumnya, Slamet Suryanto.

"Mobil asal bisa dinaikin, tidak perlu mobil baru," ujar Jokowi kala menjelaskan alasan kenapa ia tidak ingin mengganti mobil dinasnya dengan yang baru. Jokowi sendiri mengaku memang tidak suka gonta-ganti mobil. Seperti halnya mobil pribadi miliknya yang ternyata sudah 14 tahun tidak diganti. "Pokoknya saya naik dan selamat saja," tutur Jokowi kala menjelaskan alasannya

Inspirasi seorang Jokowi tentunya mengingatkan kita betapa negeri ini masih memiliki banyak orang yang amanah lagi berhati bersih. Karenanya? Kita sebagai warga Indonesia? Janganlah berhenti berdoa dan mengharapkan segala yang terbaik bagi negeri ini agar kelak impian kita menjadikan Indonesia sebagai Andalusia (sebuah negeri yang dihuni mayoritas Muslim) di abad 21 bisa terwujud.

Amiin

Sumber
1. http://news.detik.com/read/2010/10/29/095509/1478422/608/walikota-solo-joko-widodo-suka-yang-kecil-kecil
2. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10625466
3. http://www.deeahzone.com/2011/06/inspirasi-seorang-joko-widodo-jokowi.html
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo
5. duniapangankita.wordpress.com/2011/03/28/joko-widodo-sang-walikota-teladan/

1 komentar: